Kedokteran Mesir

operasi otak dan penggunaan roti berjamur sebagai antibiotik purba

Kedokteran Mesir
I

Pernahkah kita menyadari betapa nyamannya hidup di era modern ini? Kalau kita demam atau terluka, kita tinggal pergi ke klinik, mendapat resep, lalu menebusnya di apotek. Semuanya bersih, terukur, dan serba steril. Kemudahan ini kadang membuat kita tanpa sadar memandang remeh masa lalu. Kita merasa peradaban modern kitalah yang paling cerdas. Tapi mari kita lakukan eksperimen pikiran sejenak dan mundur sekitar empat ribu tahun ke belakang. Tepatnya ke dataran Mesir Kuno. Biasanya, saat membicarakan era ini, pikiran kita langsung tertuju pada piramida yang megah atau kutukan mumi yang misterius. Padahal, jauh di balik balutan perban linen dan hieroglif, ada sebuah rahasia medis yang rutin membuat ahli bedah saraf masa kini terdiam saking kagumnya. Sejarah medis manusia ternyata tidak berjalan lurus dari kebodohan menuju kepintaran. Ada kalanya, di masa lalu yang terasa begitu asing, leluhur kita sudah melakukan lompatan kejeniusan yang sangat luar biasa.

II

Banyak dari kita mungkin berpikir bahwa tabib di zaman Firaun hanyalah dukun yang mengandalkan kemenyan dan mantra. Ternyata dugaan itu keliru. Ada sebuah dokumen medis kuno yang bernama Edwin Smith Papyrus. Teks ini sama sekali bukan buku sihir atau kumpulan doa. Dokumen ini adalah jurnal medis trauma paling tua di dunia yang murni berbasis observasi rasional. Di dalamnya tidak ada sedikit pun campur tangan dewa-dewi. Penulis dokumen ini membedah anatomi manusia dengan ketelitian seorang ilmuwan modern. Mereka memetakan sistem saraf, mendeskripsikan selaput pelindung otak (meninges), dan bahkan sudah mengenali cairan cerebrospinal yang mengelilingi otak kita. Bayangkan saja, teman-teman. Tanpa listrik, tanpa mesin MRI, dan tanpa mikroskop, mereka mengamati tubuh manusia murni menggunakan logika dan analisis kausalitas. Namun pemahaman teori saja tentu tidak cukup. Pertanyaan besarnya adalah, kalau mereka sebegitu pahamnya tentang anatomi, apa yang mereka lakukan saat ada pekerja konstruksi yang kepalanya tertimpa balok batu seberat dua ton? Bagaimana cara mereka menyelamatkan nyawa yang berada di ambang kematian?

III

Di sinilah situasi menjadi sedikit menegangkan dan menantang nalar kita. Untuk mengatasi tekanan luar biasa di dalam otak akibat cedera parah, dokter Mesir Kuno melakukan prosedur yang disebut trepanation. Secara sederhana, ini adalah tindakan melubangi tengkorak manusia yang masih hidup. Ya, mengebor kepala untuk memberi ruang bagi otak yang membengkak. Kedengarannya seperti adegan film horor yang sangat brutal, bukan? Apakah ini murni sebuah keajaiban medis, atau jangan-jangan pasiennya justru mati di tempat karena prosedur yang mengerikan ini? Kita tahan dulu rasa penasaran itu. Karena nyatanya, ada masalah sehari-hari yang jauh lebih mematikan dari sekadar cedera kepala ringan atau berat. Masalah itu bernama infeksi. Di zaman kuno, tergores pisau yang kotor atau kakinya tertusuk paku di tepi Sungai Nil bisa dengan mudah menjadi vonis mati. Bakteri akan masuk ke aliran darah, memicu sepsis, dan membunuh secara perlahan. Di dunia yang belum mengenal pil antibiotik, bagaimana cara leluhur kita ini bertahan hidup dari serangan bakteri mikroskopis? Mereka tentu tidak mau pasrah begitu saja. Mereka punya satu resep medis rahasia, yang kalau dipikir pakai standar kebersihan kita sekarang, terdengar sangat menjijikkan dan tidak masuk akal.

IV

Resep rahasia peninggalan para tabib kuno itu adalah sepotong roti berjamur. Bukti sejarah menunjukkan bahwa dokter Mesir Kuno sering dengan sengaja menempelkan adonan roti yang sudah basi dan berjamur ke atas luka terbuka yang sedang meradang. Terdengar sangat kotor? Tunggu sampai kita melihat fakta hard science di baliknya. Jamur yang tumbuh subur pada roti basi tersebut sering kali berasal dari genus Penicillium. Ya, tebakan teman-teman sama sekali tidak salah. Ini adalah bahan dasar penicillin. Ini adalah antibiotik pertama yang secara "resmi" dicatat sejarah atas nama Alexander Fleming ribuan tahun kemudian pada tahun 1928. Ribuan tahun sebelum dunia Barat merayakan penemuan antibiotik, dokter Mesir Kuno sudah mempraktikkan terapi antibiotik purba. Jamur dari roti tersebut secara alami memproduksi zat kimia yang membunuh bakteri mematikan di sekitar luka. Luka yang meradang menjadi kering, infeksi berhasil dihentikan, dan nyawa pasien pun selamat. Lalu, apa kabar dengan pasien yang tengkoraknya dibor tadi? Bukti arkeologis membongkar sebuah fakta epik. Tengkorak-tengkorak dengan lubang trepanation yang ditemukan para ilmuwan memiliki bekas penyembuhan tulang (bone remodeling) di sekitar pinggiran lubangnya. Artinya, pasien-pasien operasi otak kuno itu tidak mati di meja operasi. Mereka selamat, otaknya pulih, dan mereka hidup bertahun-tahun setelah tengkoraknya dilubangi.

V

Mengetahui semua fakta ini rasanya seperti mendapat tamparan realita yang sangat mencerahkan. Dalam ilmu psikologi, ada sebuah bias kognitif yang disebut chronological snobbery. Ini adalah sebuah anggapan arogan bahwa manusia di zaman dulu itu bodoh atau primitif hanya karena mereka hidup di masa lalu. Padahal, secara anatomis, otak dokter Mesir Kuno itu sama persis dengan otak ahli bedah saraf di rumah sakit ternama masa kini. Perangkat keras di kepala kita tidak berubah. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang sama, daya observasi yang sama tajamnya, dan yang terpenting, mereka punya empati yang mendalam untuk menyembuhkan sesamanya. Perbedaan kita dengan mereka hanyalah pada akumulasi data dan teknologi yang kita warisi. Saat kita melihat ke sejarah masa lalu, kita sebenarnya bukan sedang melihat orang-orang yang tertinggal. Kita sedang melihat cerminan daya juang diri kita sendiri. Kita melihat manusia-manusia tangguh yang berusaha mengakali kerasnya alam semesta dengan apa pun yang ada di genggaman tangan mereka. Kisah ini mengajarkan kita sebuah kerendahan hati yang indah, bahwa kadang-kadang penyelamat umat manusia bisa datang dari tempat yang paling tidak terduga. Entah itu keberanian luar biasa untuk membedah sebuah tengkorak, atau sekadar dari sepotong roti basi yang ditumbuhi jamur kehidupan.